Subscribe:

Pages

Keajaiban Do'a




Bismillahirrohmanirrohim. Alhamdulillaahilladzi arsala Rasulahu bil huda wa diinil haqq. Wa sholaatu wa salaamu ‘ala Nabiyinaa Muhammadin, wa ‘ala aalihi wa as-haab
ihi wa man tabi’ahum bi ihsaanin ilaa yawmiddin.

Setiap kita tentu pernah berdo’a. Tetapi pernah kah kita mempelajari bagaimana sunnah berdo’ a (tata cara berdo’a) yang diajarkan Nabi Shollallaahu ‘alayhi wa sallam? Bagaimanakah agar do’a kita dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala dan menjadikannya pahala yang besar bagi kita di akhirat kelak? Berikut kita akan membahas secara ringkas mengenai do’a sebagai berikut:

Asal kata do’a berasal dari kata Du’a – Yad’uu yang artinya menyeru. Secara istilah maka do’a adalah menampakkan diri kepada Allah atas kebutuhan seorang makhluk kepada Rabb-nya.
Doa merupakan ibadah sebagaimana Rasulullah Shollallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:
Artinya: Do’a adalah ibadah, Rabb kalian berfirman: ‘Berdo’alah kepada-Ku, niscaya Aku akan memperkenankan untuk kalian.”
(Hadits Riwayat Abu Dawud No. 1479, At-Tirmidzi No. 3247, Ibnu Majah No. 3828).
Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman dalam Surah Al-Mu’min:60 :
Artinya: “Dan Rabb-mu berfirman: ‘Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Ku-perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah (berdo’a) kepada-Ku akan masuk Neraka Jahannam dalam keadaan hina dan dina.”
Dengan dasar dalil di atas maka wajib bagi kita untuk berdoa karena berdoa kepada Allah merupakan perintah-Nya yang bahkan Allah murka jika kita tidak mau berdoa kepada-Nya. 
Di dalam berdo’a maka kita harus memperhatikan faktor-faktor yang menjadi sebab diterimanya / dikabulkannya do’a. Diantaranya adalah sbb:
Yaitu meluruskan niat (di hati) dengan menujukan ibadah (termasuk di antaranya adalah do’a) hanya kepada Allah Subhanahu wa ta’ala saja dan meninggalkan kesyirikan.
- Surah Al Mu’min ayat 14:
Artinya: “Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ibadat kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai(nya).
- Surah Al Bayyinah ayat 5:
Artinya: “mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus.
- Surah Al Jin ayat 18:
Artinya: “Dan sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah”
- Surah Al Ahqaf ayat 5:
Artinya: “Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyeru tuhan-tuhan selain Allah yang tiada dapat memperkenankan (doanya) sampai hari Kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) doa mereka.”
Yaitu ittiba’ (mengikuti) tata cara maupun redaksi do’a yang dicontohkan / diajarkan Nabi Shollallaahu ‘alayhi wa sallam . Rasulullah adalah orang yang paling mengenal Allah dan paling tahu bagaimana caranya berdo’a agar dikabulkan oleh Allah.
- Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman dalam Surah Ali Imran ayat 31:
Artinya: “Katakanlah (kepada mereka): Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku (Muhammad), niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang.”
Bersungguh-sungguh dalam berdo’a dan yakin akan dikabulkan. Keragu-raguan akan dikabulkannya do’a berarti menyangsikan Allah.
- Rasulullah Shollallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:
Artinya: “Sesungguhnya Rabb kalian Yang Mahasuci lagi Mahatinggi itu Mahamalu lagi Mahamulia, Dia malu terhadap hamba-Nya jika dia mengangkat kedua tangannya kepada-Nya untuk mengembalikan keduanya dalam keadaan kosong (tidak dikabulkan).”(Hadits riwayat Abu Dawud No.1488, At-Tirmidzi no.3556, Ibnu Majah no.3865. Ibnu Hajar sanadnya Jayyid).
Yaitu menghadirkan hati dalam berdo’a, tidak lalai dari mengingat Allah. Jangan sampai kita berdo’a tetapi hati kita mengingat yang lain / tidak khusyu’.
- Rasulullah Shollallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:
Artinya: “Berdo’alah kalian kepada Allah dengan yakin akan dikabulkan, dan ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan do’a dari hati yang lalai dan lengah. (Hadits riwayat At-Tirmidzi No. 3479, Al Hakim I/493. Hadits ini dinilai hasan oleh Syaikh Al Albani).
Berdo’a dengan pasti dan optimis. Tidak boleh berdo’a misalnya dengan mengatakan, “Ya Allah ampuni aku jika Engkau mau.”
Rasulullah Shollallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda: 
Artinya: “Janganlah sekali-kali seseorang dari kalian mengatakan; ‘Ya Allah, ampunilah aku jika Engkau mau! Ya Allah, kasihanilah aku jika Engkau mau! ‘ Berdoalah kamu dgn sungguh-sungguh, karena Allah akan berbuat menurut kehendak-Nya tanpa ada yg dapat memaksa-Nya.‘ (Hadits riwayat Muslim no.4837).
Berdo’a dengan wajar, artinya tidak meminta yang berlebihan misalnya: Ya Allah berikan aku kekebalan.” Atau juga misalnya berdoa: Ya Allah aku mohon istana di surga yang pintunya dari emas, lantainya dari intan, luasnya 1000 hektar,” dan seterusnya.  Jadi cukup katakan, ‘Ya Allah masukkanlah aku ke dalam surga.’
Artinya: “Berdo’alah kepada Rabb-Mu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Dia (Allah) tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al A’raaf: 55)
Berdo’a dengan sabar dan tidak berputus-asa.
- Rasulullah Shollallaahu ‘alayhi wa sallam  bersabda: 
Artinya: “Dikabulkan do’a seseorang dari kalian selama ia tidak terburu-buru, ia berkata: ‘Aku sudah berdo’a tetapi do’aku belum dikabulkan.”   (Hadits riwayat Al Bukhari No. 6340, Muslim |No. 2735).
- Juga beliau Shollallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:
Artinya: “Do’a seseorang hamba akan senantiasa dikabulkan selama ia tidak berdo’a untuk berbuat dosa atau memutus silaturahmi, selama ia tidak meminta dengan isti’jal.” Ada yang bertanya: Ya Rasulullah, apa itu isti’jal (tergesa-gesa) ? Jawab Beliau: “Jika seseorang berkata : ‘aku sudah berdo’a memohon kepada Allah, tetapi Allah belum mengabulkan do’aku. ‘  Lalu ia bosan / putus asa dan akhirnya meninggalkan do’a nya tersebut.  (Hadits riwayat Muslim No. 2735).
Tidak mendo’akan sesuatu yang buruk terlebih terhadap keluarga, harta, anak dan diri sendiri.
- Rasulullah Shollallaahu ‘alayhi wa sallam juga bersabda:
Artinya: “Tidaklah seorang Muslim berdo’a kepada Allah dengan suatu do’a yang di dalamnya tidak mengandung dosa dan pemutusan silaturahmi, melainkan Allah akan memberikan kepadanya salah satu dari tiga kemungkinan: (yaitu) dikabulkannya segera do’anya itu, atau Dia akan menyimpan baginya di akhirat kelak, atau Dia akan menghindarkan darinya keburukan yang semisalnya.” Maka para shahabat pun berkata: “Kalau begitu kita akan memperbanyaknya.” Beliau bersabda: “Allah lebih banyak (memberikan pahala).” (Hadits riwayat Ahmad III/18, Al Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no.7101, Al Hakim I/493 dari Abu Sa’id Al Khudri) 
Meninggalkan makanan/minuman yang haram baik dari sisi zatnya maupun dari sisi memperolehnya. 
- Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman: 
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu.” 
- Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Rasulullah Shollallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda: 
Artinya: “Wahai manusia! Sesungguhnya Allah adalah Mahabaik, tidak menerima kecuali yang baik.” 
Kemudian Nabi Shollallaahu ‘alayhi wa sallam menceritakan seorang laki-laki yang melakukan perjalanan jauh, rambutnya kusut dan berdebu lalu menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berkata, ‘Ya Rabb..ya Rabb..’ sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya dari yang haram, dicukupi dari yang haram, maka bagaimana mungkin dikabulkan do’anya?”(Hadits riwayat Muslim II/703 No.1015)
Dengan demikian, do’a sulit terkabul jika kita masih banyak melakukan yang diharamkan Allah dan tidak bertaubat atas dosa dan kesalahan.
Yaitu berdo’a dengan suara pelan antara samar dan keras.
- Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman dalam surah Al A’raaf ayat 205:
Artinya: “Dan sebutlah (nama) Rabbmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.
- Dalam hadits ‘Tujuh golongan yang Allah akan menaungi mereka pada hari yang tiada naungan melainkan naungan-Nya’ yaitu salah satunya: 
artinya: “..Seseorang yang berdzikir kepada Allah dalam keadaan sendiri / sepi, lalu mengalirlah air matanya…” (Hadits Riwayat Al Bukhari No. 660, Muslim No. 1031, lihat Riyadhus Shalihin no. 376)
- Hadits dari Abu Musa Al Asy’ari Radhiyallaahu ‘anhu ia berkata: “Orang-orang mengangkat suaranya ketika bertakbir dan berdo’a, kemudian Rasulullah Shollallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda: 
Artinya: Wahai manusia sekalian, kasihanilah diri kalian, sesungguhnya kalian tidak berdo’a kepada Rabb yang tuli dan tidak juga jauh. Sesungguhnya kalian berdo’a kepada Rabb Yang Mahamendengar lagi Mahadekat, dan Dia bersama kalian.” (Hadits Riwayat Al Bukhari no. 2992, 4202, 6384, 6610, 7386, Muslim no. 2704, Ahmad IV/402).
Tawassul adalah menjadikan sesuatu sebagai wasilah / perantara antara seseorang dengan Rabb-nya
dalam memperoleh suatu manfaat atau dikabulkannya suatu do’a.
Bertawassul diperbolehkan asalkan sesuai dengan syariat yaitu melalui apa yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam dan yang dicontohkan oleh para Shahabat mulia setelah Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam wafat.
Adapun tawassul yang disyariatkan adalah sebagai berikut:
Dalil:
- Surah Al- A’raaf ayat 180:
Artinya: “Hanya milik Allah Asmaa-ul Husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asmaa-ul Husna itu.”
1) Artinya: “… Aku memohon dengan setiap nama-Mu, yang Engkau memberi nama diri-Mu dengannya, atau yang Engkau ajarkan kepada salah satu makhluk-Mu, atau Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau Engkau sembunyikan dalam ilmu ghaib di sisi-Mu…” (Hadits riwayat Ahmad, Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih, Silsilah Ash Shahihah no. 199).
2) Yaa Hayyu yaa Qoyyum, birohmatika astagi tsu ashlih lii sya’nii kullahu, wa laa takilnii ilaa nafsii thorfata’ain. 
Artinya: Wahai Rabb Yang Mahahidup, Wahai Rabb Yang Mahaberdiri sendiri, dengan rahmat-Mu aku meminta pertolongan, perbaikilah segala keadaan dan urusanku dan jangan Engkau serahkan kepadaku meski sekejap mata sekalipun. (Hadits riwayat An-Nasai dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah no.575, Al-Hakim I/545, Derajat hadits ini hasan). Do’a ini dibaca 1x saat pagi dan saat petang.
Dalilnya ialah kisah tiga orang yang terperangkap dalam gua bertawasul dengan amal shalih yang mereka lakukan berupa berbuat baik kepada kedua orangtua, meninggalkan perbuatan zina, dan menunaikan hak orang lain. Allah mengabulkan doa mereka sehingga mereka dapat keluar dari goa karena sebab tawasul dalam doa yang mereka lakukan. Kisah ini tercantum dalam Hadits riwayat Al-Bukhori No. 2102 dan Muslim No. 2743, dari ‘Abdullah bin ‘Umar.
Dalil diperbolehkannya hal tersebut adalah contoh dari Shahabat Umar ibn Khotob Radhiyallahu ‘anhu yang meminta paman Nabi Shollallaahu ‘alayhi wa sallam yaitu Abbas bin Abdul Mutholib Radhiyallaahu ‘anhu untuk berdo’a kepada Allah agar segera diturunkan hujan di musim paceklik (lihat Hadits riwayat Bukhori).
Adapun tawassul dengan selain di atas maka tidak disyariatkan. Bahkan dapat menjatuhkan diri kita pada kemusyrikan yaitu bila bertawassul melalui kubur-kubur orang shalih, wali dan sebagainya.
Bila dilakukan dengan keyakinan si orang mati bisa menyampaikan hajat kita kepada Allah maka ini adalah bid’ah (sesuatu yang diada-adakan dalam syariat) sedangkan bila dengan keyakinan si orang mati bisa mengabulkan do’a maka jatuh dalam syirik besar / keluar dari Islam.
Atsar (riwayat) dari Umar Radhiyallaahu ‘anhu yang tidak datang ke kubur Nabi Muhammad Shollallaahu ‘alayhi wa sallamuntuk bertawassul ini menunjukkan tidak ada dari para sahabat yang bertawassul kepada orang mati walaupun itu adalah Rasulullah Shollallaahu ‘alayhi wa sallam.
Sabda Rasulullah Shollallaahu ‘alayhi wa sallam juga menjelaskan bahwa sholat atau membaca al-Qur’an di kuburan-kuburan adalah terlarang.
Artinya: “Allah melaknat orang-orang Yahudi dan Nasrani karena mereka menjadikan kuburan para Nabi mereka sebagai masjid (tempat ibadah). (Hadits riwayat Al Bukhari no. 435, 1330, 1390,
3453, 4441, Muslim no. 531, Ahmad I/218, VI/21, 34, 80, 255, dari ‘Aisyah Radhiyallaahu ‘anha).
Pada dasarnya setiap do’a terkabul hanya saja Allah mempunyai kehendak lain..
Rasulullah Shollallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:
Artinya: “Tidaklah seorang Muslim berdo’a kepada Allah dengan suatu do’a yang di dalamnya tidak mengandung dosa dan pemutusan silaturahmi, melainkan Allah akan memberikan kepadanya salah satu dari tiga kemungkinan: (yaitu) dikabulkannya segera do’anya itu, atau Dia akan menyimpan baginya di akhirat kelak, atau Dia akan menghindarkan darinya keburukan yang semisalnya.” Maka para shahabat pun berkata: “Kalau begitu kita akan memperbanyaknya.” Beliau bersabda: “Allah lebih banyak (memberikan pahala).” (Hadits riwayat Ahmad III/18, Al Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no.7101, Al Hakim I/493 dari Abu Sa’id Al Khudri). 
Demikian, semoga bermanfaat, Wallaahu a’lam bisshowab.
Doa merupakan ibadah sebagaimana Rasulullah Shollallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:
Artinya: Do’a adalah ibadah, Rabb kalian berfirman: ‘Berdo’alah kepada-Ku, niscaya Aku akan memperkenankan untuk kalian.”
(Hadits Riwayat Abu Dawud No. 1479, At-Tirmidzi No. 3247, Ibnu Majah No. 3828).

Semoga bermanfaat kawan ...
ref : 
http://bagindaery.blogspot.com/

0 komentar:

Posting Komentar